Minggu, 24 Februari 2013

Alasan Tersendiri Pensil 2b Jadi Pilihan Saat UN



Seperti kita ketahui, LJK (Lembar Jawaban Komputer) akan diperiksa menggunakan alat bantu berupa komputer. Mesin atau alat untuk membaca LJK ini sendiri disebut scantron. Mengikuti perkembangan teknologi, scantron pun berkembang menjadi semakin canggih. Sistem scantron modern saat ini memiliki teknologi yang cukup tinggi, dimana alat ini menggunakan sensor gambar dan algoritma pengolahan gambar yang sangat canggih. Algoritma ini bahkan dapat membedakan bulatan jawaban hanya dari pembacaan bulatan mana yang memiliki goresan paling tebal. Jadi jika anda mengisi setiap bulatan jawaban pada LJK anda, alat scantron canggih ini akan menentukan mana bulatan yang diarsir paling gelap dalam setiap barisnya dan menetapkannya sebagai jawaban anda. Bahkan sistem scantron canggih ini dapat melakukan pembacaan melalui kedua sisi LJK anda.
 Dengan demikian, anda dapat menggunakan pulpen, pensil atau bahkan tinta printer jika anda ingin mengerjakan LJK anda dengan menggunakan printer untuk menandai semua jawaban anda. Bahkan jika anda menggunakan pensil berwarna alat tersebut masih dapat membaca hasil tes anda asalkan anda tidak memakai warna yang sama dengan warna garis dan tulisan pada LJK. Karena jika anda memilih warna yang sama persis dengan warna garis pada LJK, alat scantron ini mungkin akan mengabaikan tanda yang anda berikan karena algoritma mesin ini akan menganggapnya sebagai bagian dari LJK dan bukan sebagai jawaban anda.
Namun sayangnya alat canggih di atas masih jarang digunakan terutama di negeri kita ini. Teknologi untuk membaca LJK kebanyakan masih menggunakan mesin scantron model awal yang jelas jauh kurang canggih dibanding mesin scantron yang terbaru saat ini. Mesin scantron "kuno" tersebut bekerja membaca tanda pensil dengan cara menyinari cahaya melalui kertas jawaban dan kemudian akan dibaca oleh alat yang bernama phototube. Dengan sistem yang "jadul" ini, agar jawaban anda dapat untuk dibaca dengan sempurna oleh mesin scantron, maka cahaya harus benar-benar terhalang oleh pensil sehingga dapat terbaca dengan benar oleh phototube.
Agar jawaban anda dapat dibaca secara sempurna oleh perangkat tua ini, maka satu-satunya alat yang aman untuk digunakan adalah pensil 2B. Mengapa harus menggunakan pensil? Pensil jelas mengapa lebih disukai daripada pulpen. Karena pensil memberikan anda kesempatan untuk mengkoreksi jawaban anda. Selain itu grafit pada pensil bekerja dengan baik untuk menghalangi cahaya scantron karena molekul grafit, yang membentuk lembaran kecil karbon, akan memantulkan banyak cahaya yang mengenainya dan menyerap hampir semua sisanya. Sedangkan jika anda menggunakan tinta pulpen, warna hitam tinta ini tidak cukup buram untuk sistem scantron yang tua ini. Selain itu, sebaiknya anda menggunakan pensil kayu bukan pensil mekanik walaupun sama-sama 2B. Karena pensil kayu membuat anda dapat mengisi bulatan dengan lebih cepat berkat ujungnya yang lebih lebar dibanding pensil mekanik.
Lalu mengapa harus menggunakan pensil 2B? Hal ini dikarenakan oleh sifat grafit yang terang bercahaya. Jadi jika anda menggunakan pensil H atau HB, warna hitam yang dihasilkan tidak cukup buram cukup untuk dapat dibaca secara sempurna oleh sistem scantron yang lama dan beresiko terjadinya kesalahan pembacaan. Pensil 3B atau di atasanya mungkin akan bekerja dengan baik, karena mereka lebih gelap dari pensil 2B. Tapi sayangnya mereka juga dapat lebih mudah menyebabkan noda bila terhapus atau tidak sengaja tergosok oleh tangan saat anda mengisi LJK, sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan pembacaan pada mesin scantron ketika scantron sedang membaca jawaban anda. Jadi pensil 2B merupakan perpaduan tepat dari tingkat kegelapan dan kekerasan dari inti grafit untuk memblokir cahaya secara efektif, dan juga tidak terlalu menyebabkan banyak corengan lain yang tidak dikehendaki.

cr.http://www.smp-dbb.com

Alasan Mengapa Orang Takut ke Dokter Gigi


Penyebab Orang Takut ke Dokter Gigi

Vera Farah Bararah - detikHealth
Senin, 13/12/2010 09:47 WIB

(Foto: thinkstock)
Jakarta, Sebuah survei menunjukkan bahwa perempuan dua kali lebih takut untuk pergi ke dokter gigi dibanding pria. Tapi memang dokter gigi adalah dokter yang paling ditakuti. Apa yang membuat orang takut ke dokter gigi?

Survei penelitian ini menemukan 19 persen perempuan mengalami kecemasan yang ekstrem saat berada di ruang tunggu dokter gigi, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 10 persen. Survei ini dilakukan di Inggris, Wales dan Irlandia Utara.

Seperti dikutip dari BBCNews, Senin (13/12/2010) dalam survei kesehatan gigi ini melibatkan lebih dari 11.300 orang yang diwawancara dan 6.469 orang dewasa yang diperiksa.

Selain itu diketahui pula bahwa jumlah orang yang mengalami kerusakan gigi lebih besar dibandingkan dengan orang yang memiliki gigi normal.

Padahal mengabaikan perawatan gigi secara rutin karena kecemasan yang berlebihan justru bisa mengarah pada masalah yang lebih besar, sehingga nantinya akan membuat biaya perawatan mulut dan gigi menjadi lebih tinggi.

Ternyata ada beberapa penyebab orang takut pergi ke dokter gigi, yaitu:
  1. Karena takut dengan peralatan yang digunakan seperti bor, dan umumnya perawatan untuk gigi serta mulut menyakitkan.
  2. Punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan dokter gigi karena dokter giginya tidak simpatik, sebagian besar orang yang takut pergi ke dokter gigi karena menemukan dokter yang kurang bersahabat sehingga menimbulkan trauma tersendiri.
  3. Takut gigi akan disuntik sehingga menimbulkan perasaan tegang dan sakit secara fisik.
  4. Ketakutan dokter akan memarahi karena tidak rajin merawat gigi, kondisi ini akan membuat orang malu untuk periksa giginya karena tidak rapih, terlihat jorok, bau mulut dan semacamnya.

Jika ketakutan terhadap dokter gigi sudah berlebihan, maka bisa memicu terjadinya fobia meskipun hingga kini belum ada batas yang jelas antara ketakutan yang normal dan juga fobia.

Ada beberapa gejala yang muncul jika seseorang terkena fobia ke dokter gigi, seperti tidak bisa tidur saat malam hari sebelum periksa gigi, merasa gugup yang berlebihan saat di ruang tunggu, ingin menangis saat berada di dokter gigi atau melihat peralatannya, panik ketika alat periksa ditempatkan di dalam mulut dan tiba-tiba menjadi sulit bernapas
.
cr. detikhealth